Sumber: Pinterest
Sebagian orang
pasti pernah atau mungkin bahkan selalu memikirkan hal-hal berlebihan atau yang
belum tentu terjadi (overthinking). Contoh kecilnya, tanggapan orang lain
mengenai diri kita. Seringkali kita terlalu memikirkan omongan orang lain, yang
membuat kita akhirnya menjadi tidak percaya diri, merasa insecure, dan sebagainya.
Overthinking dapat diartikan sebagai keadaan di mana
seseorang terlalu banyak berpikir akan sesuatu hal.
Dilansir dari www.alodokter.com,
overthinking bisa dipicu oleh adanya kekhawatiran akan suatu hal, mulai
dari masalah sepele dalam kehidupan sehari-hari, masalah besar, hingga trauma
di masa lalu, yang membuat kita tidak bisa berhenti memikirkannya.
Apa dampak buruknya?
Kita jadi
mengkhawatirkan masa depan, merenungkan masa lalu, menyalahkan diri sendiri,
dan tidak bisa membuat keputusan. Takut melakukan tindakan yang salah, akhirnya
kita tidak melakukan tindakan apapun. Tidak maju dan berkembang.
Dilansir dari golife.id, dampak dari overthinking
adalah kita akan terus-menerus
melakukan analisis akan hal yang kita
pikirkan secara berulang kali,
yang akhirnya tidak dibarengi dengan tindakan sebagai problem solving.
Hal ini erat kaitannya dengan
permasalahan psikologis,
seperti kecemasan hingga depresi. Semakin kita banyak memikirkan sesuatu hal secara
berlebihan,
akan semakin dekat dengan
rasa cemas dan depresi.
Penyebab Overthinking
Penyebab overthinking bermacam-macam. Yuk, simak penjelasannya di bawah ini!
1.
Pola Pikir yang
Terlalu Rumit
Biasanya, para overthinker
udah kebawa ribet duluan. Belum ngerjain apa-apa, tapi malah banyak
memikirkan. Akhirnya, mudah panik. Ini hanya membuang waktu kita. Sederhanakan
pola pikir, terutama untuk hal-hal kecil.
2.
Melakukan Hal yang Itu-itu Saja
Aktivitas yang
membuat kita bosan dan jenuh memicu timbulnya overthinking. Maka dari itu,
segeralah beralih aktivitas yang seru dan menyenangkan, atau mencoba hal baru
yang belum terpikirkan atau belum sempat kamu lakukan.
3.
Memendam Sendiri
Jangan takut untuk
berbagi cerita kepada orang lain. Ceritakan kepada mereka yang kamu percaya
bisa menjaga rahasiamu atau menjadi moodbooster-mu, misalnya kepada orang tua
atau teman dekatmu. Mereka pasti akan mendengarkan dengan baik.
Bagaimana cara mengatasinya?
Menurut Tony Robbins, ada 7 cara
berhenti overthinking.
1. Atur Cerita Sendiri
Untuk mengatasi
keyakinan yang membatasi kita, harus terlebih dahulu mengidentifikasinya.
Kemudian, kita dapat menahan diri saat mulai menceritakan kisah negatif ini
kepada diri sendiri dan menggantinya dengan yang positif, seperti "saya
yang mengatur emosi saya" atau “hanya saya yang bisa mengendalikan diri
saya”. Setelah kita mengubah cerita kita sendiri, itu akan mengubah hidup kita.
2. Lepaskan Masa Lalu
Pemikir berlebihan
sering kali berfokus pada masa lalu, menghabiskan energi untuk "bagaimana
jika" dan "harus punya". Mereka yang mengerti bagaimana berhenti
berpikir berlebihan tahu bahwa masa lalu hanyalah itu. Itu tidak bisa diubah.
Satu-satunya hal yang dapat kita ubah adalah makna yang kita berikan padanya.
Melepaskan masa lalu berarti kita tidak membiarkan kesalahan mengendalikan
keputusan masa depan kita dan tidak membiarkan hal-hal buruk yang telah
dilakukan terhadap kita mengendalikan emosi kita. Memaafkan orang lain dan
lepaskan amarah kita. Ini adalah salah satu cara paling signifikan untuk
mengubah cerita kita.
3. Hidup di Masa Kini
Hidup saat ini
adalah kunci untuk mempelajari cara berhenti berpikir berlebihan. Kita dapat
mengendalikan pikiran kita dan menghentikan emosi negatif di jalurnya.
Identifikasi pemikiran berlebihan sebelum menjadi tidak terkendali dan luangkan
waktu sebentar untuk menyetel ulang. Bernapas dan fokus pada saat apa yang kita
dengar dan lihat.
4. Pegang Kendali Emosi
Hidup saat ini
tidak berarti kita harus mengubur emosi negatif. Untuk menguasai emosi, kita
perlu mengakuinya dan mengidentifikasi akar penyebabnya. Saat kita merasa
cemas, gali lebih dalam. Sering kali saat menghadapi ketakutan kita yang lebih
besar, seperti tidak merasa mengendalikan hidup kita atau tidak berkembang
sesuai keinginan kita. Sadarilah, akar penyebab dari terlalu banyak berpikir
dan kita dapat mulai membuat kemajuan untuk menghentikannya sebelum dimulai.
5. Fokus Mencari Solusi
Seperti yang Tony
katakan, "Identifikasi masalah, tetapi berikan kekuatan dan energi kita
untuk solusinya." Kita telah mengidentifikasi alasan sebenarnya dari stres
dan kecemasan kita, tetapi pekerjaan kita belum selesai. Satu-satunya cara
untuk belajar bagaimana berhenti terlalu banyak berpikir tentang kebaikan adalah
dengan mengatur hidup kita. Jika kita tidak berada di tempat yang kita inginkan
dalam hidup, tetapkan tujuan untuk diri kita sendiri sehingga kita bisa
mencapainya. Jika kita merasa hidup di luar kendali kita, buatlah keputusan
hari ini untuk kembali ke belakang kemudian. Ini adalah langkah besar, dan
harus berani. Ingat, tidak ada yang mengontrol realitas kita kecuali diri kita
sendiri.
6. Ketahui Perbedaan Antara Ketakutan dan Intuisi
Pemikir berlebihan
mungkin mengalami kesulitan dalam membedakan antara rasa takut membuat
kesalahan, yang menyebabkan terlalu banyak berpikir hingga tidak membuat
keputusan, dan perasaan mendalam bahwa ada sesuatu yang salah. Mengetahui
apakah ketakutan atau intuisi yang memandu perilaku kita akan membantu keluar
dari pikiran kita dan mengambil langkah selanjutnya yang diperlukan. Tarik
napas dalam-dalam dan benar-benar rasakan bagaimana rasanya membuat keputusan,
lalu kita dapat menguraikan apakah ketakutan atau intuisi sedang bermain dan
cara terbaik untuk bergerak maju.
Setelah kita
menemukan cara berhenti berpikir berlebihan dan hidup pada saat ini, kita akan
jauh lebih bahagia, lebih tenang, dan memiliki pengaruh positif pada
orang-orang di sekitar kita. Ingatlah selalu bahwa hidup terjadi untuk kita.
Bahkan, emosi negatif kita dapat membawa hasil yang positif jika Anda
memperlakukannya sebagai hadiah yang telah diberikan untuk membantu kita tumbuh.
Ingat ya, tidak
semua orang harus menyukai kita dan setuju dengan pendapat kita. Jadi, lakukan
apa yang kita suka😊
Sumber: Robbins Research International, Inc. [US]